Cara Budidaya Tanaman Penghasil Gaharu

Tanaman penghasil Gaharu seperti Acquilaria Malacensis, merupakan tanaman asli Indonesia yang saat ini termasuk dalam kategori dilindungi. Hal ini bermula dari masifnya perburuan gaharu oleh masyarakat Indonesia karena tergiur harga gaharu yang tinggi. Masyarakat tidak hanya mengambil gaharu pada batang yang sudah roboh atau pada pohon yang telah mati, namun juga pada akar pohon. Sehingga, pohon-pohon gaharu semakin banyak yang ditebang dan menyebabkan kerusakan hutan. Karena hal tersebut, masyarakat internasional melalui forum Convention on International in Trade Endangered of Wild Fauna and Flora Species (CITES) menetapkan tanaman penghasil gaharu jenis Aqularia dan Grynops kedalam regulasi APENDIX II CITES, yaitu tanaman-tanaman yang harus dilindungi dari kepunahan. Grynops dan Aqularia malacensis ditetapkan pada tahun 2014.

Saat ini, pemerintah Indonesia melalui Balai Konserveasi dan LITBANG Kuhutanan mengupayakan pembudiayaan tanaman penghasil gaharu dengan melakukan penelitian pembudidayaan yang hasilnya akan di sebarkan ke masyarakat. Pemerintah pun menghimbau masyarakat agar tidak melakukan perburuan liar dan menetapkan peraturan ketat mengenai bisnis gaharu ini.

FYI : Kabar terbaru yang saya dengar bahwa untuk menjual gaharu saat ini, harus ada surat-surat izin yang lengkap. Kemarin ada yang tertangkap saat melakukan transaksi gaharu dan sampai saat ini saya belum update kabarnya lagi. Barangkali untuk pengusaha pemula harus segera mengurus izin baik untuk pembudidayaan gaharu maupun untuk penjualannya.

Budidaya tanaman penghasil gaharu sebenarnya tidak terlalu rumit asalkan mengikuti langkah-langkah dibawah ini :

PEMILIHAN JENIS TANAMAN GAHARU

Sebelum dilakukan budidaya, sebaiknya dilakukan pemilihan jenis tanaman gaharu. Untuk pemilihan jenis, perlu juga disesuaikan dengan daerah atau tempat tumbuh yang cocok buat tumbuhan penghasil gaharu tersebut. Terkait hal ini, silahkan baca tulisan saya mengenai : Tanaman Penghasil Gaharu

picture1

Pemilihan jenis tanaman gaharu sangat penting, sesuai dengan permintaan pasar. Selain itu, kita mempertimbangkan kualitas, nilai guna, dan nilai jual produk gaharu yang akan dihasilkan, baik dalam  dalam bentuk mentah (raw material) maupun produk jadi, seperti oudh atau agarwood oil. Di sisi lain, pemilihan jenis ini juga mempertimbangkan daftar tanaman gaharu pada kategori APENDIX II CITES, misalnya jenis Grynops dan Aquilaria. Beberapa rekomendasi jenis gaharu yang dapat dibudidayakan yaitu : Acquilaria malaccensis, A.microcarpa, A.filaria,  Acquilaria beccariana, Grynops moluccana, dan Grynops Grogerii.

FAKTOR BIOLOGIS LAHAN

Faktor lahan dalam pengembangan budidaya tanaman gaharu, secara teknis dapat ditentukan dengan pendekatan kondisi endemik sebaran tumbuhan pohon yang potensial sebagai penghasil gaharu. Para pencari gaharu mengestimasi bahwa lahan-lahan marginal dengan kesuburan rendah pada daerah beriklim panas dan curah hujan kurang dari 1000 mm/ tahun, merupakan daerah penghasil gaharu berkualitas baik. Selain itu, sifat genetik pohon sebagai tumbuhan pioneer yang tidak tahan terhadap cahaya matahari langsung, pada fase pertumbuhan awal (vegetatif) harus diperhatikan. Namun, jika daerah yang akan ditanami tanaman penghasil gaharu terlalu marginal, dikhawatirkan budidaya (pembibitan) akan bermasalah. Hal ini karena tumbuhan akan rentan terhadap infeksi dan bisa menyebabkan tanaman tersebut mati. Sebaliknya, jika pada lahan yang terlalu subur, dikhawatirkan tumbuhan penghasil gaharu akan mempunyai antibody yang kuat, sehingga proses pembentukan gaharu akan lambat atau terhambat.

PENGADAAN BIBIT

Bibit tanaman gaharu bisa berupa biji atau stek sehinga pembibitan dapat dilakukan secara generatif atau vegetatif. Pembibitan secara generatif yaitu dengan menanam bijinya, sedangkan secara vegetatif yaitu melalui stek atau pencangkokan. Secara teknik proses pembibitan dijelaskan sebagai berikut :

  • Pengumpulan benih

Benih dikumpulkan dengan cara memungutnya atau dengan cara memanen buah matang fisiologis. Buah yang matang ditunjukkan dengan melihat pada pohon indukan yaitu sekitar 10-20% buah yang telah pecah.  Bila benih dikumpulkan dari hutan, kelembaban benih harus dijaga dengan cara dikemas dengan serbuk gergaji.

  • Penyemaian

Sebelum benih disemai, terlebih dahulu benihnya dibersihkan agar tidak tercemar kotoran atau jamur (penyakit), yaitu dengan cara membersihkan dan merendamnya dalam fungisida. Selanjutnya dilakukan proses penyemaian dalam bak atau bedeng. Selain tekni ini, penyemaian juga dapat dilakukan yaitu yang terbaru yaitu menggunakan teknik floating atau secara hidroponik)

picture5

Pembibitan tanaman Gaharu secara Hidroponik

  1. Pesemaian dalam Bak

Siapkan bak semai plastik dan media tumbuh (campuran tanam 1:2 kompos organik). Campurkan media tumbuh secara merata. Benih ditaburkan pada media dan ditutup setebal 1 cm dengan pasir zeolit. Penyiraman dilakukan 1 hari sekali. Jika telah berkecambah, biarkan benih tumbuh hingga berhelai daun 3-4 helai.

picture3

Kecambah Tanaman Gaharu

 2. Bedeng Tabur

Untuk bedeng tabur, bedeng dibuat dengan ukuran lebar 1 m dan panjangnya 2-3 meter atau disesuaikan dengan tersedianya benih. Bedeng yang ideal bermediakan kompos organik, campuran tanah dan pasir halus. Sebelum digunakan, sebaiknya media dijemur dibawah matahari 2-3 jam. Media yang sudah siap, ditaburi benih dan ditutup plastik dengan ketebalan 1 cm.

picture4

Bedeng Tabur

3. Floating nursery.

Sebenarnya cara penyemaiakan ini mirip seperti hydroponik, dimana benih ditumbuhkan dengan media air. Setelah anakan sudah terbentuk (anakan dengan 3-4 helai), dilakukan pemeliharaan dengan memindahkannya ke polibag yang berisikan media tanah dan kompos (1:1). Bibit-bibit yang sudah dipindahkan ke polybag, disimpan dalam rumah kaca atau dalam lapangan yang dibuat tenda kecil ( rumah beratap plastik atau rumbia). Usahakan cahaya masuk sekitar 60% saja. Anakan yang dipindahkan ke lahan harus berusia 3-4 bulan. Namun, sebelumnya dilakukan proses adaptasi, anakan terlebih dahulu dengan lingkungan tumbuh yang baru. Jika anakan langsung dipelihara di lahan dengan proses pembenihan menggunakan sungkup platik, sungkupnya baru dibuka setelah anakan berusia 4 bulan.

picture5

Floating Nursery

4. Pengadaan bibit secara Vegetatif

Pembibitan tidak hanya dapat menggunakan biji, namun juga dapat dilakukan secara vegetatif, yaitu menggunakan stek pucuk atau cangkok. Adapun kultur ringan dapat juga digunakan, namun bagi pemula itu terlalu sulit dan banyak memakan biaya, serta butuh menejemen yang baik. Beberapa teknik pengadaan bibit secara vegetatif dapat dibaca dibawah ini

  1. STEK PUCUK

Tahapan stek pucuk sebagai berikut :

picture7

Stek Pucuk

  • Siapkan media tanam, yaitu campuran kompos dan tanah (1 :1) dalam polibag
  • Tempatkan stek dalam rumah kaca atau sungkup plastik. Cahaya yang dibutuhkan yaitu 50-60% saja.
  • Pokok pucuk yang akan distek, harus mempunyai 3-5 daun. Pucuk dipotong dengan posisi miring dan dalam kondisi segar.
  • Celup atau oleskan potongan stek tersebut ke dalam cairan hormon pertumbuhan akar (Rotton-F)
  • Tanam stek pada media yang telah dibuat dan letakan stek tersebut dalam sungkup plastik atau rumah kaca
  • Penyiraman dilakukan 1 kali sehari, dengan interval 2 hari sekali. Selanjutnya, amati pertumbuhan stek.
  • Stek siap ditanam ke lahan, ketika stek tersebut berusia sekitar 8 bulan.

2. CANGKOK

Sebenarnya bibit yang diusahakan untuk budi daya tidak efektif jika diadakan dengan pencangkokkan, kecuali jika tujuannya untuk pengembangan kebun penghasil benih. Untuk teknik mencangkok, tahap-tahapnya sebagai berikut :

picture8

Cangkok Tanaman Gaharu

  • Pilih bahan cangkokkan dari tunas-tunas pohon inti yang tegak.
  • Kerat kulit tunas tersebut dengan panjang sekitar 15 cm dan bersihkan kambiunnya dan biarkan kering.
  • Berikan hormon perangsang akar pada bidang keratan diatas.
  • Bungkus bidang cangkokkan dengan plastik transparan, dengan campuran media tanah, kompos, dan bubuk sabut kelapa. Kemudian ikat kuat.
  • Pertumbuhan akar diamati dengan baik. Cangkkokan dapat dipotong dan dipindahkan, jika sudah 3-4 bulan.

 

SEMOGA BERMANFAAT 🙂

Sumber : Sumarna Y. 2009. Gaharu : Budi daya dan Rekayasa Produksi. Jakarta : Penebar Swadaya

Sumber Gambar : Maman Turjaman dan Erdy Santoso (FOREST MICROBIOLOGY RESEARCH GROUP, Centre for
Conservation and Rehabilitation, Forestry Research and Development Agency, Ministry of Forestry)


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s