Perbedaan Minyak Jahe India dan Cina yang perlu kamu ketahui

Jahe (Zingiber Officinale) merupakan salah satu tanaman surga yang banyak manfaatnya. Tumbuhan ini sangat familiar di Indonesia. Jahe biasanya digunakan dalam masakan nusantara, namun penggunaan terbanyak yaitu sebagai bahan baku flavor dan farmasi, seperti jamu dan obat tradisional lainnya. Saat ini, banyak beredar produk-produk F&B, permen dan obat-obatan yang menggunakan tambahan ekstrak jahe atau flavor jahe kedalamnya.

Guys, ternyata rimpang jahe dapat menghasilkan minyak atsiri atau essential oil? Selama ini yang kita ketahui bahwa jahe dapat diolah menjadi oleoresin saja. Dalam pasar Internasional, minyak jahe tersebut dikenal sebagai ginger oil. Apa sih perbedaan antara Oleoresin dan Essential oil Jahe?

Oleoresin adalah hasil estraksi rimpang jahe dengan menggunakan pelarut. Oleoresin jahe mempunyai tekstur yaitu lebih kental dibanding dengan essential oil-nya. Hal ini karena dalam oleoresin jahe, masih terkandung pati dan juga essential oil. Sementara, essential oil pure jahe hanya berupa minyak saja dan tidak mengandung pati atau zat lainnya. Biasanya essential oil ini didapatkan dari hasil penyulingan menggunakan steam distillation (penyulingan uap) atau water distillation (perebusan/kohobosi). Para pakar penyulingan selalu merekomendasikan  metode penyulingan jahe yaitu menggunakan water distillation sebagai metode yang paling tepat.

Terdapat dua jenis minyak jahe yang beredar di pasar, yaitu : Fresh Ginger Oil dan Dry Ginger Oil. Bagaimana perbedaan keduanya? cekidot!

  • Fresh ginger oil (FGO) atau minyak jahe segar adalah hasil penyulingan rimpang jahe segar. Biasanya dalam tahap penyulingan tersebut, bahan baku langsung cacah kemudian disuling. Minyak ini mempunyai wangi yang “ fresh-sweet” dan mirip dengan bahan bakunya. Minyak jahe segar biasanya digunakan juga sebagai bahan pewangi, massage oil, dan flavor serta aromatherapy atau dalam produk skincare.
  • Dry Ginger Oil (DGO) atau minyak jahe kering adalah minyak jahe dari hasil penyulingan rimpang jahe yang sudah dikeringkan. Sebelum disuling, biasanya rimpang jahe diiris tipis-tipis kemudian dikeringkan. Minyak ini banyak beredar di pasar dan harganya lebih murah dibanding fresh ginger oil. Dari segi aroma, minyak jahe kering mempunyai wangi yang lebih “tajam” dan tidak segar”

Rimpang jahe yang disuling adalah rimpang jahe emprit (jahe kecil) dan jahe merah dan bukan jahe gajah. Jahe emprit mempunyai wangi yang khas, pedas, dan tajam. Biasanya bahan baku yang disuling berusia minimal 9 bulan. Hal ini karena minyak jahe yang diminta oleh pembeli untuk kebutuhan obat adalah yang memiliki senyawa kimia Alfa Zingiberol (Zingiberene) yang tinggi,  yaitu minimal 28%. 

Dalam pasar Intenasional, dikenal dua sumber minyak jahe yaitu dari minyak Jahe China dan India. Kedua minyak ini mempunyai perberdaan persentase senyawa kimianya yang dapat dilihat pada tabel berikut :

Senyawa Kimia Utama Minyak Jahe China Minyak Jahe India
Zingiberene 38.1% 40.2%
Ar-Curcumene 17.1% 17.1%
Beta- sesquiphellandrene 7.3% 7.3%
Champene 4.7% 4.5%
Beta-bisabolene 5.2% 6%
Beta-Phellandrene 2.5% 3.4%
Borneol 2.2% 2.8%
Alfa – pinene 1.3% 1.4%
1.8- Cineole 2.1% 1.7%
Beta- elemene 1.2% 1.4%

     (Sumber : Lawrence 1995b p. 55 dalam Essential oil Safety Second Edition)

Semoga informasi ini bermanfaat ya sob. Mau dapat minyak jahe asli dan pure 100%? Yuk follow intagram kami : @mikala_aromatica atau hubungi langsung :081380359541

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s